JANGAN MENYERAH JIKA BERBICARA TENTANG MENUNTUT ILMU

BAGI AKU ILMU PENGETAHUAN ADALAH SEGALA-GALANYA DI BANDINGKAN DENGAN HARTA BENDA..!

Kamis, 25 Februari 2010

Antromometri dan dampak terhadap kelahiran bayi

Disamping dampak social ekonomi dan karakteristik lingkungan yang ditimbulkan oleh ibu, terdapat minat yang semakin meningkat dalam penggunaan pengukuran antropometri ibu sebagai sebuah cara untuk memperkirakan berat lahir. Komponen penting dari status gizi ibu yang memiliki dampak signifikan terhadap hasil kehamilan adalah keseimbangan energi, yang tercerminkan dalam ukuran simpanan tubuh. Penilaian antropometris status gizi sangat bermanfaat karena dapat memberikan informasi tentang simpanan lemak serta aspek-aspek lain dari ukuran tubuh ibu dan komposisi yang mempengaruhi dampak kehamilan. Penilaian status gizi bergantung pada pengukuran tinggi, berat prahamil (PPW), berat badan saat hamil pada trimester yang berbeda, pertambahan berat badan selama kehamilan, ketebalan lipatan kulit dan lingkar tungkai. Beberapa tolak ukur mencerminkan status gizi seorang wanita atau simpanan energi ketika dia mulai hamil (tinggi, PPW), sedangkan yang lainnya mencerminkan perubahan status gizi selama berlangsungnya kehamilan (ketebalan lipatan kulit, lingkar tungkai, PWG, bobot saat hamil). Tolak ukur yang terakhir ini dapat dikaitkan dengan perubahan-perubahan simpanan energi ibu, perkembagan jaringan reproduksi maternal, volume darah yang meningkat dan cairan ekstra selular dan pertumbuhan janin. Ukuran ibu telah diketahui terkait dengan berat lahir bayi.
Pengukuran berat badan ibu sebelum lahir digunakan untuk menilai risiko awal terjadinya dampak yang buruk terhadap kehamilan, juga digunakan untuk menentukan rekomendasi penambahan berat badan yang sesuai untuk wanita dengan status risiko yang berbeda, dan untuk mentargetkan intervensi intervensi gizi bagi mereka yang paling membutuhkan. Berat badan pra-hamil dan pertambahan berat selama kehamilan pada umumnya memiliki pengaruh positif terhadap berat lahir bayi. Kombinasi berat badan pra-hamil rendah dengan pertambahan berat rendah selama kehamilan dapat meningkatkan risiko berat lahir rendah, dan mortalitas perinatal, neonatal, dan mortalitas bayi. Idealnya, berat badan sebelum kehamilan harus diukur sebelum wanita tersebut didiagnosa hamil. Akan tetapi, ini sangat sulit, khususnya di Negara-negara berkembang.
Beberapa penelitian telah menunjukkan berat badan sebelum hamil sebagai penentu signifikan untuk berat lahir baik di negara maju maupun di negara berkembang. Kramer (1987), dalam meta-analisisnya, menemukan efek sebab akibat dari berat badan sebelum hamil terhadap keterlambatan pertumbuhan intrauterin. Taffel (1980) melaporkan bahwa wanita di Amerika Serikat yang memiliki berat badan kurang dari 51 kilogram sebelum kehamilan memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk melahirkan bayi berat lahir rendah dibanding para ibu yang lebih berat dari berat badan normal.


Beberapa penelitian telah mengukur efek pertambahan berat badan selama kehamilan terhadap berat lahir. Kramer (1987) dalam meta analisisnya menunjukkan bahwa untuk rata-rata wanita yang memiliki gizi prenatal yang layak, efek terhadap berat lahir adalah 20,3 gram per kilogram pertambaan berat kehamilan. Akan tetapi, pertambahan berat optimal berbeda bagi wanita yang mulai hamil pada status gizi yang berbeda. Akan tetapi, kombinasi antara berat badan sebelum hamil rendah dengan pertambahan berat badan selama hamil rendah menempatkan wanita pada risiko yang paling besar untuk melahirkan seorang bayi yang memiliki berat lahir rendah.
Pertambahan berat berbeda-beda lintas kehamilan, tetapi dipersulit oleh usia, gravida, status merokok dan status morbiditas lainnya. Sebagai dampak dari kesulitan megukur pertambahan berat ibu selama kehamilan, beberapa peneliti telah mencermati hubungan antara berat post-partum ibu dengan berat lahir. Luke dan Petrie (1980) menemukan berat lahir yang meningkat terkait dengan berat postur ibu yang lebih berat pada wanita yang berbobot rendah dan yang berbobot normal. Beberapa penelitian di India juga telah menunjukkan adanya hubungan positif antara berat postur ibu dengan berat lahir bayi.
Juga telah ada upaya yang dilakukan untuk mengkaitkan panjang kaki dengan kelahiran. Pada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 351 wanita British di tahun 1985, sebuah risiko relatif dari seksi caesar ditemukan sebesar 8,6 pada seorang wanita yang memiliki ukuran sepatu di bawah 4,5 dibanding dengan wanita yang memiliki ukuran sepatu lebih besar dari 6. Akan tetapi, penelitian-penelitian lain menemukan tingkat operasi Caesar yang meningkat pada wanita yang berbadan pendek, tapi tidak ada hubungan yang ditemukan antara cara melahirkan dengan ukuran kaki.
Lingkar tungkai dan ketebalan lipatan kulit telah lama dikenal sebagai indikator penting dari status gizi. Sebagai akibat dari kelebihan praktis yang dibandingkan dengan ukuran antropometri lain, penggunaan lingkar lengan telah direkomendasikan oleh beberapa peneliti dalam memprediksikan dampaknya terhadap kehamilan. Lingkar lengan pada kehamilan ditemukan dapat dibandingkan dengan pertambahan berat badan selama kehamilan untuk usia kehamilan dalam memprediksi berat lahir, sedangkan pertambahan berat badan untuk tinggi standar, dan tinggi uterin merupakan prediktor yang sedikit lebih baik.
Pada sebuah penelitian terhadap wanita hamil di Bangladesh pedesaan, lingkar lengan ibu sangat terkait dengan ukuran antromometri lain (seperti berat badan sebelum hamil dan beratuntuktinggi, berat dan berat untuk tinggi pada tahap-tahap kehamilan yang berbeda, pertambahan berat badan per trimester dan tinggi), kecuali untuk trimester terakhir ketika tidak terkait dengan indeks-indeks antropometri. Dalam menjelaskan mortalitas janin dan bayi, berat badan ibu dan perubahan berat badan selama kehamilan ditemukan baik dari lingkar lengan. Akan tetapi, analisis sensitifitas/spesifitas terhadap berbagai hal menunjukkan bahwa lingkar
lengan sedikit lebih baik dibanding tinggi, berat atau pertambahan berat
kehamilan dalam memprediksikan kematian janin atau bayi.

Gizi
Berat lahir yang memuaskan merupakan salah satu penanda yang paling baik untuk hasil kehamilan dan prognosis yang baik dalam hal mortalitas dan morbiditas bayi. Banyak faktor penentu berat lahir yang terkait dengan status gizi ibu dengan beberapa cara. Ini mencakup laju
pertumbuhan janin dan asupan makanan ibu, pertambahan berat ibu dan indeks massa tubuh pra-hamil. Pertambahan berat ibu selama kehamilan dan status gizi sebelum dan selama kehamilan terkait dekat dan masing-masing mempengaruhi satu sama lain. Pertambahan berat badan dipengaruhi oleh ukuran tubuh ibu (berat tinggi, indeks massa tubuh, persentase lemak tubuh) sebelum kehamilan, kualitas dan kuantitas asupan makanan dan aktivitas fisik selama kehamilan. Status gizi ibu secarakeseluruhan dipengaruhi oleh asupan makanan, status sosial ekonomi dan tingkat aktivitas fisik. Dua faktor penentu utama lainnya dari pertumbuhan janin, yang dengan sendirinya terkait dekat dan keduanya saling berinteraksi, dan bisa memiliki dampak berbahaya terhadap status ibu, adalah asupan alkohol dan merokok. Secara umum, berat lahir lebih rendah, dan kejadian berat lahir rendah lebih tinggi, pada bayi-bayi yang dilahirkan dari wanita yang selama kehamilan memiliki berat badan rendah, memiliki asupan energi total yang kurang, makanan berkualitas buruk atau yang meminum atau merokok berat.
Adipositas tubuh merupakan sebuah indikator kesehatan untuk reproduksi dan juga, pada kondisi kelebihan atau kekurangan gizi, kesuburan tertekan, tapi jika kehamilan telah terjadi persyaratan gizi harus dipenuhi dari asupan makanan dan simpanan tubuh. Status gizi keseluruhan yang baik sebelum dan selama kehamilan dipelrukan untuk menutupi persyaratan ekstrak dari kehamilan dan bisa cukup mendukung gaya hidup dari ibu. Dengan demikian, kehamilan adalah sebuah periode risiko gizi yang signifikan terhadap ibu dan janin karena seringkali terjadi dibawah batas toleransi, dan pada beberapa kasus pada kondisi gizi yang sangat tidak layak.
“Gizi mencakup asupan energi total dan asupan markronutrien penghasil energi (protein, lemak, karbohidrat dan alkohol), vitamin dan mineral, dan sulit untuk memisahkan efekefek yang mungkin terhadap berat lahir dari konstituenkonstituen yang berbeda ini. Akan tetapi, persyaratan energi dari kehamilan berbeda-beda menurut status energi ibu sebelum dan selama kehamilan dan ini bisa menjadi sebuah petunjuk untuk mengetahui status gizi secara keseluruhan. Variasi ini tampaknya dapat menjadi metode yang penting untuk melindungi pertumbuhan janin dalam upaya untuk memastikan bahwa janin sesuai untuk ukuran tubuh ibu dan dengan demikian memiliki peluang terbaik untuk bisa bertahan hidup. Akan tetapi, ini bukannya tidak memiliki dampak buruk. Efek yang mungkin terhadap ibu yang mempertahankan sebuah kehamilan pada kondisi gizi yang berbahaya masih harus ditentukan dan pengaruh gizi yang kecil terhadap lingkungan janin bisa memiliki dampak jangkan panjang untuk keturunan.
Tingkat pertumbuhan janin yang relatif lambat dan simpana lemak ibu yang besar, bersama dengan potensi untuk perubahan adaptif dalam metabolisme, bisa membantu mengatasi beberapa efek berbahaya dari kekuranga gizi. Walaupun pertumbuhan janin yang layak tampaknya dapat dipertahankan pada tingkat-tingkat gizi yang berbeda, pada situasi ekstrim dimana terjadi keseimbangan energi negatif akibat, misalnya, kelaparan, atau tingkat aktivitas fisik yang berlebihan bersama dengan kombinasi asupan energi rendah, berat lahir berkurang substansial. Karena berat bukanlah tolak ukur yang memadai dari kondisi keseluruhan bayi saat lahir dan karena laju morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada bayi yang berberat badan rendah, wanita hami,khususnya di negaranegara berkembang, harus dianggap beresiko dari segi gizi.

Suplemen makanan
Banyak penelitian tentang suplemen makanan yang telah dilakukan
pada wanita hamil untuk meningkatkan berat lahir dan khususnya untuk
engurangi keadian berat lahir rendah. Kebanyakan penelitian berfokus pada asupan energi dan protein secara keseluruhan dan suplemensuplemen biasanya telah mencakup vitamin ekstra dan mikronutrien. Tolak ukur hasil yang utama dari penelitian dimana suplemen telah diberikan secara khusus sebagai vitamin dan mikronutrien bukanlah berat lahir.
Penelitian suplemen makana telah dilakukan di lapangan dan pada kondisi eksperimental baik di negara maju maupun negara berkembang. Meskipun beberapa penelitian suplementasi telah menyebabkan menngkatnya berat lahir secara signifikan dan/atau berkurangnya kejadian berat lahir rendah, namun penelitian lainnya belum menunjukkan hasil yang sama. Akan tetapi, perbedaan desain penelitian, jumlah, waktu dan frekuensi supplementasi, pemilihan target dan kelompok kontrol, dan pemenuhan subjek semuanya menjadikan perbandingan sulit dilakukan. Jika tidak ada efek signifikan yang ditemukan, suplemen cenderung digantikan, dan bukan ditambahkan ke asupan biasa, atau diberikan pada wanita yang kemungkinan tidak kekurangan gizi dalam indeks kehamilan. Penelitian-penelitian yang telah menunjukkan bahwa intervensi gizi bisa secara signifikan meningkatkan hasil kehamilan dari segi berat lahir cenderung merupakan penelitianpenelitian dimana kekurangan gizi diidentifikasi dalam populasi target, pada pada musim tertentu dimana berat lahir lebih kecil dari yang diprediksikan, atau dimana suplemen diberikan secara langsung kepada wanita hamil tanpa dibagi dengan anggota keluarga. Terdapat penignkatan potensi besar pada berat lahir yang bisa dimiliki oleh suplementasi yang ditargetkan dengan tepat dan juga penting bahwa hasilhasil dari percobaan skala kecil ini yang telah dilakukan pada kondisi eksperimental bisa direplikasi pada kondisi hidup yang sebenarnya.

Merokok
Wanita yang merokok selama kehamilan akan melahirkan bayi yang
bayi dengan berat badan yang 200 gram lebih ringan dibanding bayibayi
yang dilahirkan dari wanita nonperokok.
Temuan ini telah dikuatkan pada
lebih dari 50 penelitian yang sebagian besar dilakukan di negara maju.
Frekuensi berat lair rendah diperkirakan dua kali lipat pada perokok. Laporan
1983 oleh United States Surgeon General terhadap lebih dari 113.000
kelahiran di Amerika, Canada dan Wales menemukan bahwa merokok bisa
mewakili antara 21 persen dan 39 persen kejadian berat lahir rendah.
Ibu yang merokok selama kehamilan terkait dengan berat lahir
dengancara dosisrespon;
semakin banyak ibu merokok selama kehamilan,
semakin besar pengurangan berat lahir, diantara para perokok, distribusi
keseluruhan dari beratlahir
bergeser ke bawah; pengurangan ratarata
akibat
merokok tidak diakibatkan oleh hanya peningkatan nenonatal yang sangat
kecil atau berkurangnya yang sangat besar. Sehingga, jumlah pengurangan
ratarata
akibat merokok dan peningkatan berat lahir rendah tergantung pada
prevalensi merokok dalam sampel penelitian dan dalam populasi umum
wanita.
Ibu yang merokok dapat menyebabkan berkurangnya lama kehamilan
sebanyak 2 hari atau kurang, pengurangan ini tidak cukup besar untuk
dikaitkan dengan pengurangan berat lahir. Jika berat lahir bayi dari ibu
perokok dan nonperokok
dibanding pada masingmasing
pekan kehamilan
dari pekan 3643,
maka bayi dari ibu perokok secara konsisten memiliki berat
lahir ratarata
yang lebih rendah. Demikian juga, frekuensi berat lahir rendah
diantara para perokok lebih besar dibanding pada nonperokok
utuk kelahiran
tepat waktu baik kelahiran terjadi dini, ratarata
atau terlambat.
Merokok merupakan salah satu pengaruh terkuat terhadap berat lahir.
Pada salah satu penelitian dimana efek berbagai faktor dikontrol, merokok
memiliki efek yang lebih besar dari riwayat kehamilan sebelumnya, status
pembayaran rumah sakit, berat prahamil
ibu, tinggi, paritas seks, atau jenis
kelamin anak. Sebuah review terbaru oleh WHO terhadap semua pengaruh
terhadap berat lahir menyimpulkan bahwa pada negaranegara
maju,
merokok merupakan pengaruh terbesar terhadap beratlahir
yang relatif
terhadap faktor lain, sedangkan di negara berkembang efeknya bisa
diabaikan; perbedaan efek antara tipetipe
negara diakibatkan oleh prevalensi
merokok yang berbeda dan variasi tingkat gizi.
Para wanita yang berhenti merokok sebelum kehamilan memiliki bayi
yang mirip ukuran rataratanya
dan risiko berat lahir rendah yang dimiliki
dengan yang nonperokok.
Efek penghentian merokok setelah kehamilan
tergantung pada kapan kehamilan terjadi dan pada berapa banyak rokok
yang dihisap. Berhenti merokok sebelum bulan keempat
kehamilan dianggap
dapat memperbaiki risiko beratlahir
rendah menjadi mirip dengan nonperokok
dan menghasilkan berat lahir ratarata
untuk nonperokok.
Beberapa
dari efek ini adalah karena menghentikan merokok lebih umum diantara para
perokok ringan dibanding perokok berat. Ketika jumlah merokok dan efek
penghentian merokok dianggap independen, maka perokok berat tidak
mencapai risiko berat lahir rendah yang sama atau memiliki berat lahir yang
sebanding dengan yang nonperokok,
walaupun analisis ini harus diulangi
dengan sebuah sampel yang mengukur kadar tiosianat untuk meemastikan
bahwa yang berhenti mereka sebenarnya belum berhenti. Fakta bahwa
penghentian merokok mengurangi atau menghilangkan efek merokok dini
dapat memberikan beberapa bukti tentang adanya hubungan sebab akibat
antara merokok dengan pertumbuhan janin. Merokok pada ibu selalu terkait
dengan pertumbuhan lingkar lengan yang berkurang serta berat lahir yang
berkurang. Pengurangan lingkar kepala terkadang juga dilaporkan.
Pengurangan ukuran tergantung pada prevalensi merokok dalam populasi
dan dosis individua. Sebuah penelitian ultrasongorafi longitudinal terhadap
pertumbuhan diameter biparietal prenatal (BPD) menujukkan bahwa diantara
bayi baru lahir yang dilahirkan antara 266 sampai 294 hari, BPD meningkat
lebih cepat mulai dari pekan ke28
kehamilan pada onperokok.
Ini
menunjukkan sebuah efek merokok terhadap pertumbuhan prenatal sebelum
pekan terakhir kehamilan.
Peningkatan mortalitas perinatal yang terkait dengan merokok cukup
kecil, yaitu tidak ada bukti jelas selama sampel yang diteliti berukuran kecil.
Akan tetapi, karena prevalensi merokok berkisar sekitar 30 perse di negaranegara
maju, maka peningkatan kematian akibat merokok pada sebuah basis
populasi luas cukup besar. Merokok terkait dengna risiko kematian bayi yang
lebih besar akibat Sindrom SIDS, atau kematian di tempat tidur. Banyak
penelitian yang telah menemukan skor Apgar yang lebih rendah pada bayi
yang baru lahir dari para perokok; akan tetapi, tidak ada bukti jelas tentang
peningkatan kecacatan kelahiran. Merokok bisa berinteraksi dengan faktor
pengurangan berat lahir potensial lainnya; misalya alkohol bisa memiliki efek
yang lebih besar terhadap pertumbuhan prenatal di antara para perokok
dibanding nonperokok.
Penyebab biologis dari penghambatan pertumbuhan yang terkati
merokok masih belum pasti: efelk biologis langsung dan tidak langsung masih
diduga duaduanya.
Efek biologis langsung kemungkinan karena rokok
mengandung ribuan senyawa; karbon monoksida adalah konstituen
utamanya. Merokok dapat memperburuk hypoksia janin. Karbon monoksida,
dengan afinitas untuk hemoglobin 200 kali dari oksigen, memiliki afinitas yang
lebih besar bagi hemoglobin janin. Diperkirakan bahwa seorang ibu yang
menghisap 40 rokok per hari, terdapat 10 persen konsentrasi ekivalen
karbonhemoglobin sampai 60 persen reduksi aliran darah ke janin. Merokok
dapat memberikan dosis fisiologis dari nikotin.
Efek biologis tidak langsung juga mungkin terjadi. Akan tetapi, terbukti
dari efek yang sangat kecil dari dari merokok terhadap lama kehamilan bahwa
berkurangnya ukuran bayi tidak diakibatkan oleh kehamilan yang cepat. Berat
lahir bisa dipengaruhi dengan cara reduksi selera makan ibu yang
ditimbulkan oleh merokok, asupan makanan yang rendah dan pertambahan
berat ibu yang lebih rendah, tapi kebanyaka bukti menunjukkan bahwa
pertambahan berat badan cukup mirip diantara para perokok dan non
perokok.
Sebuah teori yang masih digunakan untuk menjelaskan berkurangnya
pertumbuhan keturunan dari para perokok adalah bahwa perokoklah bukan
merokok yang mempengaruhi pertubuhan. Karena hampir semua penelitian
tentang efek merokok melibatkan perbandingan kelompok yang dipilih sendiri,
maka juga ada kemungkinan bias hasil penelitian.
Keberadaan hubungan dosisrespon
antara jumlah rokok yang dihisap
denga reduksi berat janin, konsistensi hasil dari penelitian yang tak terhitugn
jumlahnya, keterulangan hasil pada berbagai tingkat pertambahan berat,
kesejahteraan ekonomi, geografi, ras/suku, dan usia, da pengetahuan yang
merupakan beberapa jalur biologis untuk komponenkomponen
merokok
yang mempengaurhi pertumbuhan janin, menjustifikasi kesimpulan bahwa
merokok pada ibu dapat mengurangi pertumbuhan janin.
Infeksi HIV pada Ibu
Pada tahun 1998, lebih dari 12.000 anak telah dilaporkan mengalami
AIDS di Amerika Serikat dan Eropa, kebanyakan terinfeksi melalui transmisi
ibukeanak
(vertikal). Kejadian infeksi diantara wanita yang sedang dalam
usia subur di negara berkembang, khususnya di subSahara
Afrika dan Asia
Tenggara, lebih tinggi dibanding di negaranegara
maju, dan diperkirakan
bahwa 90 persen infeksi HIV anak di masa mendatang di seluruh dunia akan
terjadi pada anakanak
yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV di negaranegara
ini. Isuisu
yang terkait dengan dampak infeksi HIV ibu terhadap bayi
dan morbiditas masa kanakkanak
sangat kompleks.
Waktu transmisi vertikal
Risiko transmisi vertikal berkisar antara 15 hingga 35 pesen; tingkat
terendah dilaporkan di Eropa, dan yang tertinggi di Afrika diana kebanyakan
wanita yang menyusui memiliki risiko transmisi yang dua kali lipat lebih tinggi.
Waktu transmisi vertikal bisa relevan dengan hasil kehamilan sejak
keterpaparan awal terhadap janin terhadap HIV dapat menginduksi berat lahir
yang berkurang, prematuritas dan malformasi sejak lahir, sebagaimana
diamati pada infeksi kongenital lain. Transmisi HIV vertikal bisa terjadi pada
periode intrauterin,
itnrapartum atau postnatal
(melalui pemberian ASI), tapi
kontribusi relatif dari masingmasing
cara transmisi ini masih belum jelas.
Walaupun ada bukti berdasarkan pemeriksaan plasenta dan jaringan janin
bahwa infeksi HIV bisa terjadi in utero, namun bukti tidak langsung
yang
terus bertambah menunjukkan bahwa banyak bayi yang terinfeksi selama
periode peripartum. Intervensiintervensi
yang dilakukan pada akhir
kehamilan dan atau selama kelahiran bisa mengurangi risiko inceksi HIV
vertikal.
Berat lahir
Data yang ada masih bersilangan dari negara maju dan negara
berkembang berkenaan dengan hubungan antara infeksi HIV ibu, berat lahir
an status infeksi HIV dari anak. Ini sebagian bisa diakibatkan oleh perbedaan
desain penelitian, variasi tahapan klinis dan imunologi dari peyakit HIV pada
wanita yang diteliti, dan faktorfaktor
lain seperti penggunaan obat, penyakit
infeksi lain, dan status gizi.
Penelitian Eropa dan Amerika yang prospektif belum menemukan
hubungan antara infeksi HIV ibu dan hasil kehamilan yang berbahaya. Berat
lahir yang serupa telah dilaporkan pada bayibayi
yang dilahirkan dari wanita
yang terinfeksi HIV, tanpa memperhitungkan status infeksi HIV akhir dari bayi.
Penelitianpenelitian
ini memiliki jumlah yang relatif kecil, an penggunaan
obat oleh ibu selama masa kehamilan menjadi sebuah faktor kerancuan yang
terkait dengan berat lahir rendah. Dsamping itu, tak satupun dari penelitian ini
yang mencakup sebuah kelompok perbandingan dari bayibayi
yang
dilahirkan pada wanita yang negatif HIV. Akan tetapi, pada sebuah penelitian
retrospektif terbaru dari Edinburgh, berat lahir dan pertumbuhan anakanak
yang tidak terinfeksi sampai usia 3 tahun yang dilahirkan dari wanita yang
terinfeksi HIV ditemukan mirip dengan anakanak
yang dilahirkan dari wanita
yang negatif HIV. Anakanak
yang terinfeksi HIV tidak dibandingkan dalam
penelitian ini. Kebanyakan wanita dalam penelitian Eropa dan Amerika
memiliki infeksi asimptomatik atau infeksi HIV simptomatik ringan dengan
fungsi kekebalan yang relatif baik.
Kebanyakan penelitian dari Afrika dan Haiti telah menunjukkan sedikit
perbedaan namun signifikan yaitu sektiar 100400
gram antara berat lahir
anak dari wanita terinfeksi HIV dengan bayi yang lahir dari wanita yang tidak
terinfeksi HIV. Bayibayi
yang dilahirkan dari wanita penderita AIDS memiliki
berat lahir terendah, sehingga menunjukkan sebuah hubungan antara status
penyakit klinis dan immunologis dari wanita dan berat lahir.
Kebayakan penelitian telah mengkaitkan berat lahir rendah diantara
pasienpasien
yang lahir dari wanita terinfeksiHIV
dengan keterlambatan
pertumbuhan intra uterin atau keprematuran. Kebanyakan relatif besar dan
telah dimasukkan ke dalam kelompok kontrol dari wanita yang tidak terinfeksi.
Dampak berbahaya lainnya yang dilaporkan diantara wanitawanita
terinfeksi HIV dalam penelitianpenelitian
di Afrika mencakup tingkat kematian
intrauterin dan intrapartum yang lebih tinggi dan chorioamnionitis. Akan
tetapi, seperti pada penelitian di Eropa dan Amerika, tidak ada peningkatan
kelainan kongenital yang telah dilaporkan diantara bayibayi
dari wanita yang
terinfeksiHIV
dibandingkan degan bayi dari wanita yang tidak terinfeksi.
Kebanyakan penelitian Afrika tidak melaporkan berat lahir menurut
status infeksi HIV dari bayi yang dilahirkan dari wanita yang terinfeksi. Ini
sebagian diakibatkan oleh sulitnya dalam mendiagnosa infeksi HIV pada
anakanak
yang masih sangat muda di Afrika, beberapa diantaranya akan
mati sebelum status infeksi bisa diketahui. Dengan demikian, sulit untuk
menentuan apakah berat lahir rendah dan dampak kehamilan yang
berbahaya seperti yang disebutkan dalam penelitian di Afrika sematamata
adalah hasil dari infeksi HIV maternal atau faktorfaktor
lain yang terkait. Pada
salah satu penelitian di Afrika, dimana status infeksi HIV dari bayi
diklasifikasikan, bayibayi
yang terifeksi HIV dilaporkan memiliki berat ratarata
290 gram lebih ringan dibanding bayi tidak terinfeksi yang dilahirkan dari
wanita yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi HIV. Akan tetapi, jumlah anak
dalam penelitian ini relatif kecil.
Ringkasnya, ketidaksesuaian yang berkenaan dengan dampak inefksi
HIV ibu terhadap berat lahir antara negara maju dan negara berkembang
kemungkinan diakibatkan oleh banyak faktor. Penelitianpenelitian
di negara
maju belum menunjukkan adanya hubungan antara infeksi HIV ibu dengan
hasil kehamilan yang berbahaya. Akan tetapi, penelitianpenelitian
dari Afrika
secara konsisten melaporkan berat lahir yang lebih rendah pada anakanak
yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV serta peningkatan kejadian hasil
kehamilan yang berbahaya, dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari
ibu yang tidak terinfeksi HIV.
Penyalahgunaan obat
Penyalahgunaan obat selama kehamilan merupakan sebuah masalah
kesehatan masyarakat yang sedang naik daun. Keterpaparan selama
kehamilan terhadap zatzat
kimia terlarang memiliki dampak terhadap
keterlambatan pertumbuhan janin dan kecepatan pertumbuhan postnatal
yang berkurang, cacat sejak lahr, perkembangan perilakusaraf
yang
teragngu, gejala penarikan neonatal dan komplikasi kesehatan yang bisa
memberikan kontribusi bagi morbiditas dan mortalitas bayi. Efek spesifik dari
keterpaparan obat prenatal pada bayi baru lahir tergantung pada berbagai
faktor termasuk tipe obat dan mekanisme kerjanya; frekuensi, jumlah, dan
waktu keterpaparan in utero; dan status kesehatan ibu pada sebuah
lingkungan penyalahgunaan obat yang memiliki risiko yang berpotensi tinggi.
Zatzat
intraurin bisa mewujudkan efek utama terhadap janin yang
seadng berkembang melalui aksi langsung dari obat dan metabolitnya
terhadap aliran darah plaseta atau terhadap jaringan ajni atau selsel
setelah
melewati plasenta. Kuantitas obat, cara pemberian, dan trimester
keterpaparan merupakan variabelvariabel
kunci untuk menentukan lokus dan
keparahan dampak, dan untuk mengidentifikasi sifatsifat
teratogenik dari
senyawa obat. Penyalahgunaan zatzat
prenatal dimediasi melalui pengaruh
obat terhadap ibu. Efekefek
tidak langsung seperti ini telah terbukti dapat
menekan selera makan, kerentanan yang meningkat terhadap infeksi, proses
pengambilan keputusan yang terganggu, dan menganggu kebaikan serta
adaptasi mental dan fisik ibu.
Penggunaan banyak obat, kesehatan ibu yang buruk, kurangnya
perawatan medis prenatal, dan status sosial ekonomi rendah merupakan
variabel pemicu yang paling umum, yang menghambat upayaupaya
klinis
yang diarahkan untuk mengidentifkasi efekefek
dari obat tertetu. Efek
berbahaya dari keterpaparan terhadap alkohol dan rokok selama kehamilan
telah dilaporkan, disamping efekefek
dari ganja, opium, dan kokain yang
masih kurang konklusif. Bukti untuk parameterparameter
pertumbuhan
terganggu yang terkait dengan obat terlarang secara in utero cukup
dipaksanakan; akan tetapi, bukti untuk teratogenik terkait, efek kognitif atau
perilaku cukup lemah. Temuan yang paling meyakinkan berkenaan dengan
keterpaparan prenatal terhadap obatobat
terlarang adalah dari
keterlambatan pertumbuhan intrauterin
(IUGR). Pertumbuhan janin yang
terganggu, khususnya otak, bisa secara tidak langsug memediasi efek obat
terhadap perkembangan kognitif dan fisik.
Alkohol dan tembakau
Keterpaparan janin terhadap alkohol telah dibukaikan dapat
menyebabka pertumbuhan yang tidak normal pada tinggi, berat, dan lngkar
kepala; serta efek teratogenik tertentu terhadap perkembangan otak. Pola
gangguan menunjukkan panjang lebih terganggu ketimbag berat, walaupun
efek dosisrespon
pada berat lahir telah ditemukan sebesar 100 gram per
pekan. Pada kasuskasus
yang parah, defisiensi pertumbuhan postnatal
yang terkait alkohol telah diketahui terus menghasilkan pertumbuhan yang
terhambat dan mikrocephaly.
Seperti halnya alkohol, efek penggunaan tembakau pada masa
prenatal terhadap berat lahir rendah terlihat dengan cara yang tergantung
dosis, seperti misalnya ukuran yang berkurang telah terkait langsung dengan
jumlah rokok yang dihisap. Secara umum, bayibayi
yang dilahirkan dari ibu
yang merokok selama kehamilan dilahirkan dengan asa sempurna, tapi berat
lebih kecil dan cenderung lebih pendek dibanding bayi dari ibu nonperokok,
walaupun perbedaan panjagn biasanya hilang ketika disesuaikan dengan
berat lahir. Bayi baru lahir yang terppar selama hamil terhadap rokok
menunjukkan massa badan kurus yang berkurang, dengan deposisi lemak
yang relatif tidak dipengaruhi. Proporsi ini berkurang pada berat dan panjag
menghasilkan sebuah pola siemtris dari keterlambatan pertumbuhan intrauterin,
dan merupakan indikasi dari oksigenasi janin yang terganggu.
Ganja
Setelah alkohol dan tembakau, ganja adalah zat psikoaktif paling
populer yang digunakan selama kehamilan di Amerika Serikat. Akan tetapi,
hasil dari penelitian tentang efek prenatalnya masih belum jelas. Beberapa
penelitian telah melaporkan adanya korelasi antara penggunaan mariyuana
selama kehamilan dan ukuran yang kecil pada kelahiran; akan tetapi,
penelitian lain tidak menemuan hubungan setelah mengontrol untuk variabelvariabel
perancu. Sebuah penelitian prospektif yang besar menemukan
pengurangan sebesar 79 gram pada berat lahir dan pengurangan 0,5
sentimeter pada panjang untuk ketrunan dari wanita yang positif ganja pada
saat melahrkan. Penelitian prospektif lainnya yang meneliti ibuibu
yang
mengandung pada interval reguler dan sering tidak menemukan hubungan
antara penggunaan ganja dengan berat lahir, meski demikian tetap
melaporkan efek kecil terhadap panjang bayi. Telah dikalim bahwa
keterpaparan ganja selama masa hamil menunjukkan efekefek
yang berbeda
terhadap badan nenonatal secara proporsional, seperti lemak tubuh tidak
dipengaruhi sedangkan ukuran lingkar lengan menunjukkan pengurangna
massa tubuh yang berkurang. Jika dibandigkan dengan bayi dengan berat
ormal atau UIGR asimetri, keterlambatan pertumbuhan simetris dari massa
tubuh secara umum membawa prognosis yagn buruk untuk kehidupan
selanjutnya.
Narkotika
Heorn dan methadon adalah opium terkemuka yang terkait dengan
keterpaparan janin, dan keduanya berkorelasi dengan efek berbahaya
terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Bayi yang terpapar opium
menunjukkan laju IUGR yang tinggi, yang cenerung mengikuti sebuah pola
simetris. Diantara bayi yang terpapar heroin, kelahiran prematur juga
memberikan kontribusi bagi berat lahir rendah, dengan satu laporan yang
menyebutkan peningkatan dua kali lipat untuk kejadian kelahiran prematur.
Sebaliknya. Penggunaan methadon dosisrendah
yang lama telah terkait
dikaitkan dengan masa kehamilan normal. Ukuran panjang dan lingkar kepala
yang berkurang juga telah dilaporkan pada bayi yang terpapar terhadap
methadon.
Keterpaparan intrauterin
terhadap opium tampaknya memiliki efek
yang berkepanjangan terhadap pertumbuhan bayi. Masih sedikit informasi
yang berkenaan dengan mekanisme dimana keterpaparan opium pada janin
mempengaruhi pertumbuhan, tetapi hasilhasil
dari penelitian laboratorium
menunjukkan bahwa opium dapat menghambat proses pertumbuhan normal
dengan menyebabkan berkurangnya jumlah total sel pada berbagai organ.
Kokain
Bayi yang terpapar terhadpa kokain secara in utero telah dianggap
memiliki risiko yang lebih ebsar untuk berat lahir rendah dan kelahiran
prematur. Laporan awal dari berat lahir rendah dan laju IUGR yang tinggi
menyusul keterpaparan terhadap kokain telah menantang dari segi
metodologis. Akan tetapi, banyak penelitian selanjutnya yang dikontrol untuk
kovariat telah menukung temuan ini. Perbandingan klinis dari bayi yang
terpapar kokain dengan bayi yang bebas obat menunjukkan bahwa bayi yang
terpapar memiliki ukurantubuh
yang berkurang, dengan jumlah signifikan
yang diklasifikasikan ke dalam kategori kecilutnukusiakehamilan
dalam hal
berat badan. Beberapa penelitian telah menunjukkan kokain sebagai sebuah
faktor risiko utama untuk berkurangnya lingkar kepala dan meningkatnya
kejadian mikrocephaly. Kokain dapat menimbulkan efek vasokonstrikstif
terhadap vaskulatur janin, dan mengurangi alirah daerah ke otak janin.
Obatobat
lain
Ketersediaan data penelitian yang masih kurang membuat kita sulit
untuk memverifikasi efek berbagai obat lain. Klaim elah dibuat utnuk dampak
serius dari PCP (fenilsiklidik) terhadap pertumbuhan intrauterin
yang
berkurang, panjang dan parameter lingkunran kepala yang berkurang
sebanyak 25 persen untuk usia kehamilan. Penggunaan amfetamin oleh ibu
juga telah dikaitkan dengan dengan berat lahir yang berkurang, panjagn dan
lingkar kepala, tapi tidak untuk halusinogen. Pada sebuah penelitian Ts dan
blues (pentazocine dan tripellennamin), bayibayi
yang dilahirkan dari
penyalahguna obat memiliki berat lahir yang berkurang signifikan, panjang
dan nilai lingkar kepala, dan frekuensi kelainan kongenital utama yang
meningkat.
Kehamilan diusia belasan tahun
Risiko bayi berat lahir rendah (< 2500 g) yang terkait dengan
kehamilan di usia remaja telah dilaporkan. Untuk wanita yang berusia 16
tahun atau kurang, risiko meningkat sekitar dua kali lipat ketika dibandingkan
dengan wanita dewasa yang berusia 1929
tahun. Berat lahir rendah
merupakan sebuah penyabab utama mortalitas neonatal dan mortalitas bayi,
terkait dengan morbiditas masa kanakkanak,
dengan masalah pertumbuhan
dan perkembangan diri serta risiko penyakit kronis yang meningkat (diabetes
dan hipertensi) di kemudian hari selamam hidupnya. Untuk ibu muda, riwayat
melahirkan bayi berat lahir rendah, baik bayi prematur atau kecil untuk usia
kehamilan, merupakan salah satu faktor risiko terkuat untuk hasil yang buruk
pada kehamilan selanjutnya.
Telah diketahui bahwa wanita yang dibesarkan pada kondisi sosial dan
ekonomi yang mendukung kemungkinan menggugurkan kehamilan yang
tidak diinginkan atau terjadi pada usia dini, akan tetapi, wanita yang tumbuh
pada kondisi suboptimal kemungkinan akan melahirkan pada usia belasan
tahun. Kondisi hidup yang suboptimal kemungkinan menghasilkan kelahiran
dini dan risiko terkait dari hasil yang buruk. Faktor sosial dan kebuayaan yang
mendasari keputusan untuk mempertahankan atau menggurkan kandungan
menyebabkan adanya laju melahirkan usia belasan yang berbeda antara
wanita yang kaya dengan wanita yang miskin.
Ketidakmatangan biologis ibu remaja juga akan mempengaruhi hasil
dari kehamilannya. Pada usia remaja, tempo pertumbuhan dan
perkembangan lebih tergantung pada kematangan biologis dibanding pada
usia kronologis. Pada wanita muda, laju dan jumlah pertumbuhan remaja
bervariasi usia onsetnya (usia 1014
tahun ratarata).
Pada usia 17 tahun,
sekitar 50 persen wanita belasan tahun telah mencapai tinggi maksimal dan
50 persen lainnya masih terus tumbuh.
Pertumbuhan remaja dan kehailan di usia belasan tahun sering
bersamaan. Akan tetapi, jika beberapa ukuran tinggi badan diambil, maka
pertumbuhan tidak jelas karena pengurangan tinggi ibu selama
berlangsungnya kehamilan. Kompresi vertebral dalam kaitannya dengan
pertambahan berat selama kehamilan dan lordosis postural memberikan
kontribusi bagi kesan yang keliru bahwa sedikit konsekuensi yang terjadi.
Dengan menggunakan metode sensitif, sekitar 50 persen primipar muda
masih tetap tumbuh selama kehamilan.

Penilaian status gizi dapat dilakukan melalui empat cara
yaitu secara klinis, biokimia, biofisik, dan antropometri.
a. Penilaian secara klinis. Penilaian status gizi secara klinis sangat penting sebagai langkah pertama dalam mengetahui keadaan gizi penduduk. Karena hasil penilaian dapat memberikan gambaran masalah gizi yang nampak nyata.
b. Penilaian secara biokimia Penilaian status gizi secara biokimia di lapangan banyak menghadapi masalah. Salah satu ukuran yang sangat sederhana dan sering digunakan adalah pemeriksaan haemoglobin sebagai indeks dari anemia gizi.
c. Penilaian secara biofisikPemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat tanda dan gejala kurang gizi. Dilakukan oleh dokter atau petugas kesehatan atau yang berpengalaman dengan memperhatikan rambut, mata, lidah, tegangan otot dan bagian tubuh lainnya.
d. Penilaian secara antropometri. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ukuran fisik seseorang sangat erat berhubungan dengan status gizi. Atas dasar-dasar ini ukuran-ukuran antropometri diakui sebagai indeks yang baik dan dapat diandalkan bagi penentuan status gizi untuk negara-negara berkembang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar